Ada satu lokasi yang aku sukai ketika aku berada di jakarta selatan. Bukan tempat rekreasi atau pun mal. Bukan taman ataupun hutan. Namun hanya sebuah jalan yang berada di sisi rel kereta listrik. Jalan itu merupakan sebuah jalan raya satu arah menuju pasar minggu. Diantara jalan tersebut dengan lintasan rel kereta listrik terdapat pohon-pohon rindang yang sudah cukup berumur. Di sisi yang lain, merupakan komplek perumahan warga.
Setiap hari aku melewati jalan tersebut menuju tempatku kerja praktek. Aku berangkat pukul 5.30, di saat mentari belum cukup terbangun dari tidurnya. Dan ada satu kesan tersendiri ketika melewati jalan tersebut. Pertama, ketika akan menyebrang dari arah rel kereta melewati jalan tersebut, puluhan lampu kendaraan terlihat dari satu arah tempatku berdiri. Imajinasiku bermain. Mengatakan lampu itu seolah napalm, sebuah senjata yang menyemburkan hujan api. Sederhana. Namun bagiku itu menarik. Kedua, akibat kendaraan yang berjalan dalam satu arah, angin pun berhembus kencang dalam satu arah yang sama, menimbulkan angin yang tidak pernah berhenti di sepanjang jalan tersebut. Ketika di trotoar jalan, imajinasiku selalu berbisik, lorong angin. Sebuah lorong yang selalu penuh dengan hembusan angin yang tak pernah berhenti. Akibar desiran angin yang selalu menerpa wajahku di setiap pagi. Sederhana. Namun bagiku itu menarik.
Sekian.
No comments:
Post a Comment