Kehidupan kuliah membuatku menghabiskan sebagian waktuku di atas motor kesayanganku. Selama itu, aku tetap pada kebiasaanku yang suka memperhatikan hiruk pikuk dunia dan berpikir tentang hal itu.
Keluar rumah, ketika akan menaiki motorku, aku melihat tetanggaku menggoda anaknya dengan lagu yang sedang booming di TV. "Hmm.. Anak yang dibesarkan oleh televisi. Satu lagi generasi bangsa yang akan hidup di bawah naungan dan pendidikan televisi. Semoga kelak dia mendapatkan jalan yang benar."
Setelah itu, terkadang aku melihat anak kecil yang duduk berjongkok di pinggir jalan, menatap ramainya jalan dengan pandangan kosong. "Hei, nak. Tak adakah yang ingin kau lakukan? Bukankan banyak permainan yang lebih menarik daripada melamun dengan tatapan yang hampa? Hidupmu masih panjang. Latihlah otakmu dengan bermain, bukan dengan melamun"
Lalu ketika di jalan raya, aku selalu melihat para pengendara motor yang tolol dan egois.
Di jalanan lurus yang 2 arah: "Uda tau jalan 2 arah, masih aja nyalaip dan menuhin jalan di arah yang berlawanan, malah ada yang naik trotoar di seberang jalan. Sampe mobil yang mu lewat juga bingung gimana cara lewatnya. BEGO!! BEGO!!"
Di jalan yang yang ada larangan masuk: "Uda tau itu jalan kecil, uda ada larangan buat ngelawan arah, buat mobil keluar juga uda susah, masih aja dilanggar dan makin macet. Padahal ada jalan lain yang lebih mulus dan sepi. BEGO! BEGO!!
Hingga ketika tak berada di motor pun pikiranku terus mengkritisi lingkungan ini. "Sepertinya isinya orang-orang berpendidikan. Tapi masalah kerapihan, kebersihan, NOL!! Di celana ada saku, di baju ada saku , di jaket ada saku, di tas ada saku, seberat itu kah untuk membuang sampah pada tempatnya??!!"
Begitulah ungkapan hati dalam diamku di atas kendaraan. Hanya bisa beristighfar sambil mendoakan. Terkadang sedikit tertekan karna tak mampu berbuat apapun untuk merubahnya. Semoga mereka tetap diberi kesadaran untuk merubah diri menjadi lebih baik. Aamiin.
No comments:
Post a Comment